iPhone 8 Tersedia dalam Tiga Ukuran Layar?

Duo iPhone 7 memang belum terlalu lama dilepas ke pasar oleh Apple. Meski begitu, rumor soal smartphone generasi berikutnya, iPhone 8, sudah marak beredar.

Bocoran informasi teranyar menyebutkan bahwa Apple bakal merilis tidak hanya dua, melainkan tiga varian iPhone 8, yang dibedakan berdasarkan ukuran layarnya.

Menurut sumber yang mengaku berasal dari dalam industri, iPhone 8 akan tersedia dalam ukuran 4,7 inci dan 5,5 inci (sama seperti saat ini), ditambah pilihan layar 5 inci.

Sang sumber menambahkan, iPhone 8 dengan layar 4,7 inci dan 5 inci masih akan menggunakan layar berjenis LTPS LCD. Jenis ini juga digunakan di duo iPhone 7.

iPhone 8 Plus akan mendapatkan sentuhan yang lebih premium. Apple dikatakan akan menggunakan layar melengkung, mirip Galaxy Edge, berjeniskan Super AMOLED bikinan Samsung.

Rumor lainnya menyatakan bahwa iPhone 8 akan mengalami perubahan desain yang cukup radikal. Pasalnya, desain iPhone sudah tidak mengalami perubahan sejak iPhone 6 dirilis beberapa tahun lalu.

Masih menurut sang sumber, sebagaimana KompasTekno rangkum dari GSM Arena, Kamis (27/10/2016), iPhone 8 sudah tidak mengunakan casing belakang berbahan aluminium. Apple akan menggantinya dengan panel kaca.

Panel kaca tersebut kabarnya akan dipasok perusahaan China Biel Crystal Manufactory dan Lens Technologi.

Meski begitu, bagian depan dari iPhone 8 dikatakan masih akan menggunakan frame berbahan metal.

Seperti biasa, Apple menolak berkomentar terhadap rumor yang berkembang mengenai produk yang belum dirilisnya.

Menurut Anda, akan seperti apakah desain fisik iPhone 8 nantinya?

Oppo dan Vivo Rajai China, Geser Huawei dan Xiaomi

Peta persaingan smartphone di China kembali berubah. Sempat didominasi oleh Xiaomi dan Huawei, kini pasar Negeri Tirai Bambu dikuasai oleh Oppo dan Vivo.

Menurut laporan kuartal-III 2016 (Juli hingga September ini) dari lembaga Counterpoint Research, Oppo menduduki singgasana smartphone China dengan pangsa pasar 16,6 persen.

Sementara itu, Vivo berada di posisi kedua dengan pangsa pasar 16,2 persen, terpaut tipis dari Oppo.

Android Authority
Data kuartal-III 2016 di China menurut Counterpoint
Raja smartphone China sebelumnya, Huawei, harus puas turun ke posisi tiga. Meski begitu, pangsa pasar Huawei di China masih cukup besar, yakni 15 persen.

Xiaomi kembali merosot di kuartal-III ini. Perusahaan yang juga berasal dari China ini hanya berhasil meraih 10,6 persen pangsa pasar saja.

Meningkat drastis

Pangsa pasar yang diraih oleh Vivo dan Oppo dalam beberapa kuartal ini memang menunjukkan peningkatan drastis.

Pada kuartal-III tahun 2015, Oppo dan Vivo baru memiliki pangsa jauh dari kedua nama di atas, masing-masing sebesar 9,9 persen dan 8,2 persen.

Huawei dan Xiaomi menduduki posisi satu dan dua, dengan pangsa pasar 15,6 persen dan 14,6 persen.

Bahkan, Oppo dan Vivo masih kalah dari Apple, pemegang posisi tiga dengan 12,4 persen pangsa pasar smartphone di China.

Kuartal-II tahun 2016 ini, Oppo dan Vivo mulai semakin dekat posisi pertama kala itu, Huawei. Bahkan, keduanya sudah berhasil menyalip Xiaomi dan Apple.

Oppo berhasil mendapat pangsa pasar sebesar 16 persen dan Vivo dengan 13,2 persen. Pemuncak daftar di kuartal sebelumnya ini masih dipegang Huawei sebesar 16,9 persen.

Sementara itu, Xiaomi sudah turun ke posisi empat dengan pangsa pasar 11,2 persen.

Xiaomi butuh ponsel premium

Tren ponsel buatan China sendiri memang sedang mengalami perubahan. Masyarakat sudah tidak lagi mencari smartphone dengan harga murah, digantikan dengan perangkat premium berbanderol mahal.

Menurut Zhang Meng, Senior Analyst Counterpoint, Xiaomi hanya mampu mengalami peningkatan pengiriman produk sebesar 1 persen saja.

Hal tersebut disebabkan langkanya penjualan produk Xiaomi di toko fisik atau secara offline.

“Xiaomi juga butuh flagship jagoan premium untuk bersaing dengan perusahaan yang banyak berfokus di bidang R&D, seperti Oppo, Vivo, Apple, dan Huawei,” tutur Meng, sebagaimana KompasTekno rangkum dari Android Authority, Kamis (27/10/2016).

Sementara itu, pengapalan produk Oppo meningkat sebesar 82 persen secara year-over-year, berkat smartphone flagship Oppo R9. Masih menurut Counterpoints, produk yang satu ini bahkan mendominasi penjualan smartphone di China, mengalahkan iPhone.

Sedangkan, Vivo mengalami pertumbuhan sebesar 114 persen untuk masalah pengapalan produk berkat flagship X7.

Counterpoints juga memprediksi, Huawei bakal bersaing ketat dengan Oppo dan Vivo di kuartal berikutnya. Di kuartal tersebut Huawei diprediksi bakal merilis Mate 9, flagship yang diyakini bakal merebut kembali pangsa pasar dari Oppo dan Vivo.

Microsoft Gandeng Vendor Laptop Bikin Headset VR

Microsoft bekerja sama dengan Dell, Lenovo, Acer dan HP, akan membuat serangkaian produk headset virtual reality (VR). Perangkat ini akan dibanderol dengan harga mulai dari 299 dollar AS atau sekitar Rp 3,8 juta.

Headset VR tersebut bakal bekerja dengan memanfaatkan software Windows 10 VR dan kemampuan hollographic yang dikembangkan oleh Microsoft.

Selain itu, di dalamnya headset itu juga dibekali fitur yang berbeda dibanding produk VR yang sudah ada di pasar (Oculus Rift, HTC Vive dan Playstation VR). Fitur tersebut antara lain berupa sensor yang bisa memindai bagian dalam dan luar headset.

Seperti dilansir KompasTekno dari Geek, Kamis (27/10/2016), perbedaan fitur ini punya arti besar. Pasalnya, headset bisa memindai gerakan kepala pengguna, tanpa harus menyematkan kamera eksternal serta sistem laser.

Fitur tersebut mirip dengan yang sedang dikembangkan oleh Oculus dalam purwarupa headset Santa Cruz. Bedanya, headset VR Microsoft masih menggunakan kabel dan tidak bisa bekerja tanpa bantuan komputer.

Namun tentu saja, karena sekarang masih belum dirilis, Microsoft bisa saja mengembangkannya lebih jauh dan mengubah headset VR buatannya menjadi nirkabel.

Headset VR buatan Microsoft dan rekan-rekannya dirancang sedemikian rupa agar cocok dengan pembaruan sistem operasi Windows 10 Creator yang akan datang. Ke depannya, kecocokan ini berarti, pengguna bisa memakai headset tersebut untuk mengakses Paint 3D dalam mode VR.

Sekarang, belum jelas kapan waktu peluncuran atau penjualan headset VR ini. Tampaknya pengguna masih harus menunggu cukup panjang untuk melihat wujud nyatanya.

Revisi UU ITE Disetujui, Ini Poin Perubahannya

Revisi Undang-undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) akhirnya selesai dibahas dan sudah disahkan menjadi Undang-undang (UU) oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

“Alhamdulillah, Chief. Barusan (RUU ITE) disetujui DPR & Pemerintah dalam rapat paripurna DPR,” ujar Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara saat dihubungi KompasTekno, Kamis (27/10/2016).

Setelah disahkan oleh DPR, UU tersebut akan masuk ke tahap pemberkasan di DPR. Selanjutnya, Presiden menuangkannya dalam berita negara dan undang-undang yang telah mengalami perubahan itu pun langsung berlaku.

Menurut Rudiantara, perubahan UU ITE ini hanya dilakukan dalam beberapa hal minor saja. Tujuan utamanya adalah supaya bisa menyesuaikan dengan dinamika teknologi dan tidak ada pihak yang bisa memanfaatkan UU ITE untuk melakukan kriminalisasi pada pihak lain.

Seiring dengan pengesahan revisi tersebut, Rudiantara langsung berkicau di akun Twitter pribadinya dan menerangkan mengenai sejumlah poin yang berubah.

“Terdapat 7 muatan materi pokok RUU, Revisi UU ITE yang diharapkan mampu menjawab dinamika tersebut,” kicau Rudiantara.

Rincian 7 muatan materi tersebut adalah:

1. Menambahkan sejumlah penjelasan untuk menghindari multi tafsir terhadap ketentuan penghinaan/pencemaran nama baik pada Pasal 27 ayat 3.

2. Menurunkan ancaman pidana pencemaran nama baik, dari paling lama 6 tahun menjadi 4 tahun, dan denda dari Rp 1 miliar menjadi Rp 750 juta.

Selain itu juga menurunkan ancama pidana kekerasan Pasal 29, sebelumnya paling lama 12 tahun, diubah menjadi 4 tahun dan denda Rp 2 miliar menjadi Rp 750 juta.

3. Melaksanakan putusan Mahkamah Konstitusi atas Pasal 31 ayat 4 yang amanatkan pengaturan cara intersepsi ke dalam UU, serta menambahkan penjelasan pada ketentuan Pasal 5 ayat 1 dan 2 mengenai informasi elektronik sebagai alat bukti hukum.

4. Sinkronisasi hukum acara penggeledahan, penyitaan, penangkapan, dan penahanan dengan hukum acara dari Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP).

5. Memperkuat peran Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) UU ITE untuk memutuskan akses terkait tindak pidana TIK.

6. Menambahkan Right to be Forgotten, yaitu kewajiban menghapus konten yang tidak relevan bagi penyelenggara sistem elektronik. Pelaksanaannya dilakukan atas permintaan orang yang bersangkutan berdasarkan penetapan pengadilan.

7. Memperkuat peran pemerintah untuk mencegah penyebarluasan konten negatif di internet, dengan menyisipkan kewenangan tambahan pada ketentuan Pasal 40.

Kewenangan tersebut berupa kewajiban untuk mencegah penyebarluasan informasi elektronik yang memiliki muatan terlarang, dan kewenangan memutus akses atau memerintahkan penyelenggara sistem elektronik untuk memutus akses terhadap informasi elektronik yang melanggar hukum.

Memotret dengan Asus Zenfone 3 ZE520KL

Asus meresmikan kehadiran Zenfone 3 di Indonesia dalam acara yang digelar di Bali, bulan lalu. Sebanyak lima varian ponsel tersebut diboyong sekaligus, masing-masing dengan spesifikasi dan level harga berbeda.

Salah satunya, di kelas menengah, adalah Zenfone 3 ZE520KL. Perangkat ini dibekali hardware mencakup prosesor octa-core Snapdragon 625, RAM 3 GB, dan media penyimpanan 32 GB.

Baca: Asus Boyong 5 Varian Zenfone 3 ke Indonesia

Perangkat berbanderol Rp 4,1 juta ini memiliki kamera 16 megapiksel berjuluk “PixelMaster 3.0”. Ada juga sensor Sony Exmor RS IMX298 dan lensa berbukaan f/2.0.

Tak berhenti sampai di situ, unit kamera milik Zenfone 3 ZE520KL turut dibekali fitur optical image stabilizer (OIS) dan electronic image stabilizer (EIS, khusus video). Kamera depannya sendiri beresolusi 8 megapiksel.

Dengan deretan fitur fotografi yang terbilang lengkap untuk ponsel kelas menengah itu, Zenfone 3 ZE520KL memiliki slogan “bulit for photography”. Seperti apa hasil tangkapan gambarnya?

Antarmuka
Oik Yusuf/ KOMPAS.com
Opsi Instant Camera dan pengambilan gambar dengan sensor sidik jari (khususnya untuk selfie) tersembunyi di dalam menu Lock Screen dan Fingerprint.
Seperti biasa, aplikasi kamera bawaan Zenfone 3 ZE520KL bisa ditemukan di layar utama home screen. Aplikasi ini juga bisa dipanggil secara cepat dengan mengaktifkan opsi “Instant Camera” di menu Settings>Lock Screen.
Kamera utama 16 megapiksel pada ponsel ini memiliki aspect ratio 4:3 standar.

Begitu dibuka, tampilan antarmuka aplikasi kamera dalam mode “Auto” akan segera menyambut. Di sisi kiri secara berurutan dari atas ke bawah terdapat deretan ikon untuk mengaktifkan atau mematikan flash, mengaktifkan kamera depan atau belakang, HDR, dan menu berbentuk logo gir.

Di sebelah kanan, ada ikon galeri untuk melihat hasil foto atau video, ikon khusus untuk berpindah ke mode “Manual”, shutter release, record video, serta ikon untuk mengganti mode pemoretan ke opsi yang tersedia di luar Auto dan Manual.

Baca: Stok Sedikit, Harga Zenfone 3 di Jakarta Naik

Opsi mode pengambilan gambar yang disediakan termasuk banyak, total mencapai 20 buah dengan kegunaannya masing-masing seperti “QR Code” untuk memindai kode QR dan “Beautification” untuk memperhalus tampilan wajah, khususnya saat selfie dengan kamera depan.
Oik Yusuf/ KOMPAS.com
Tampilan mode Auto, Manual, dan beberapa paramenter gambar yang bisa diatur lewat menu Optimization.
Mengingat kalangan penggemar fotografi yang disasarnya, mode Manual pada aplikasi kamera Zenfone 3 ZE520KL termasuk lengkap. Ada opsi untuk mengatur white balance secara manual dengan unit Kelvin meski dengan rentang yang tak terlalu luas (2.500K-6500K, interval per 50K), exposure compensation, kecepatan rana, dan fokus manual.

Untuk membantu penggambilan gambar, disediakan pula level 2-sumbu horizontal dan vertikal untuk memastikan posisi ponsel telah lurus dengan horizon. Lalu ada indikator exposure dari -2EV hingga +2 EV, serta histogram luminance di pojok layar.

Di tombol menu berlogo gir, pengguna bisa mengakses opsi pengaturan lebih lanjut. Seperti “Optimization” yang berisi parameter setting seperti level saturasi warna, kontras, sharpness, bahkan juga tingkat noise reduction yang jarang tersedia di smartphone.
Oik Yusuf/ KOMPAS.com
Slider exposure compensation akan muncul ketika pengguna menahan jari beberapa saat setelah menyentuh area frame yang hendak dijadikan titik fokus.

Opsi “Touch auto-exposure” memiliki fungsi mirip spot metering pada kamera digital. Zenfone 3 ZE520KL akan mengukur exposure berdasarkan intensitas cahaya obyek pada titik fokus, bukan rata-rata intensitas cahaya di frame (average metering). Praktis ini untuk kondisi tertentu seperti saat obyek terlihat gelap karena backlight.

Metering cahaya bisa diatur lebih lanjut dengan exposure compensation yang diterapkan secara praktis.

Cukup dengan menahan jari beberapa saat ketika menyentuh layar untuk melakukan fokus, maka aplikasi kamera akan mengunci AF, AWB, dan AE serta menampilkan slider pengatur gelap-terang gambar di bawah lingkaran indikator fokus. Fungsi “Touch Shutter” mesti dimatikan agar opsi pengaturan exposure compensation ini bisa muncul.

Revisi UU ITE Masih Berpotensi Mengancam Kebebasan Ekspresi

Anggapan pasal karet yang selama ini menempel pada Pasal 27 ayat 3 di Undang-undang No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), tidak dicabut dalam versi revisinya yang disahkan oleh DPR hari ini, Kamis (27/10/2016).

Alih-alih, pemerintah menambahkan sejumlah penjelasan untuk menghindari multitafsir terhadap ketentuan penghinaan atau pencemaran nama baik pada Pasal 27 ayat 3. Pemerintah pun memutuskan untuk mengurangi ancaman hukumannya.

Baca: Revisi UU ITE Disetujui, Ini Poin Perubahannya

Pasal tersebut selama ini selalu menjadi senjata andalan untuk mengajukan tuntutan pencemaran nama baik, sehingga mengancam kebebasan berekspresi di internet. Oleh karena itu, pengamat menilai pasal karet tersebut seharusnya dihapus saja.

“Pemerintah seharusnya mencabut ketentuan Pasal 27 ayat (3), tidak hanya mengurangi ancaman hukumannya,” tutur peneliti dari lembaga kajian Institute for Criminal Justice Reform (ICJR) Anggara dalam keterangan tertulis yang diterima KompasTekno, Kamis (27/10/2016).

Menurut Anggara, argumen pemerintah itu lemah. ICJR dan LBH Pers berpandangan bahwa norma dan praktik perubahan tersebut masih tetap berpotensi mengancam kebebasan ekspresi.

Di samping itu, ada persoalan duplikasi tindak pidana karena ketentuan–ketentuan yang sama dalam KUHP masih mampu untuk menjangkau perbuatan–perbuatan yang dilakukan dengan medium internet.

“Problem yang terjadi adalah pasal-pasal pidana tersebut terbukti masih bersifat karet, multi intrepretasi, dan gampang disalahgunakan,” kata Anggara.

Mengurangi ancaman hukuman tidak menjawab akar masalah karena dalam praktik, aparat penegak hukum kerap menggunakan tuduhan ganda, pasal berlapis, sehingga ancaman pidana yang ada dapat menahan sesorang yang dilaporkan atas pasal 27 ayat (3).

Pasal 27 ayat 3 sendiri berbunyi, “Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik dapat di dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,000 (satu miliar rupiah).”

Revisi Undang-undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) selesai dibahas dan sudah disahkan menjadi Undang-undang (UU) oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Setelah disahkan oleh DPR, UU tersebut akan masuk ke tahap pemberkasan di DPR. Selanjutnya, Presiden menuangkannya dalam berita negara dan undang-undang yang telah mengalami perubahan itu pun langsung berlaku.

Resmi, Zenfone 3 Max Dijual Mulai dari Rp 2,2 Juta di Indonesia

Asus resmi merilis Zenfone 3 Max dalam acara Zenvolution pada bulan September lalu di Indonesia. Kini, smartphone Android tersebut akhirnya tersedia juga di pasaran Tanah Air.

Di Indonesia, ada dua varian Zenfone 3 Max ZC520TL yang tersedia. Keduanya memiliki spesifikasi yang sama, tetapi dibedakan dari kapasitas memori internal.

Varian pertama memiliki media penyimpanan 16 GB, bakal dijual dengan harga Rp 2.199.000. Sementara itu, varian kedua berkapasitas 32 GB dan akan dilepas dengan harga Rp 2.399.000.

“Kami senang dapat menghadirkan Zenfone 3 Max ke pasaran Indonesia. Smartphone ini sudah lama ditunggu oleh banyak fans Asus dan sekarang sudah bisa dibeli di pasaran,” tutur Juliana Cen, Country Product Group Leader Asus Indonesia, dalam keterangan tertulis yang diterima KompasTekno, Kamis (27/10/2016).

Zenfone 3 Max sendiri merupakan seri penerus dari Zenfone Max yang dirilis tahun lalu. Masih sama dari generasi sebelumnya, Zenfone 3 Max masih mengandalkan baterai super besar.

Zenfone 3 Max dibekali dengan baterai 4.130 mAh. Yang menarik dari baterai jumbo ini, selain sebagai tenaga ponsel, smartphone baru tersebut dapat difungsikan jadi powerbank (baterai portabel) menggunakan kabel USB on-the-go yang disediakan.

Smartphone ini hadir dengan layar IPS berbentang 5,2 inci dengan dukungan resolusi 1.280 x 720.

Sebagai “otak” pemrosesan, Zenfone 3 Max dibekali CPU Arm Cortex-A53 1,2 GHz quad-core, yang dikombinasikan dengan GPU Mali T720 600 MHz.

Spesifikasi lainnya, RAM 2 GB, kamera belakang 13 megapiksel, kamera depan 5 megapiksel, dan menjalankan sistem operasi Android 6.0 Marshmallow yang dipercantik dengan tampilan antarmuka ZenUI 3.0.