iPhone 8 Tersedia dalam Tiga Ukuran Layar?

Duo iPhone 7 memang belum terlalu lama dilepas ke pasar oleh Apple. Meski begitu, rumor soal smartphone generasi berikutnya, iPhone 8, sudah marak beredar.

Bocoran informasi teranyar menyebutkan bahwa Apple bakal merilis tidak hanya dua, melainkan tiga varian iPhone 8, yang dibedakan berdasarkan ukuran layarnya.

Menurut sumber yang mengaku berasal dari dalam industri, iPhone 8 akan tersedia dalam ukuran 4,7 inci dan 5,5 inci (sama seperti saat ini), ditambah pilihan layar 5 inci.

Sang sumber menambahkan, iPhone 8 dengan layar 4,7 inci dan 5 inci masih akan menggunakan layar berjenis LTPS LCD. Jenis ini juga digunakan di duo iPhone 7.

iPhone 8 Plus akan mendapatkan sentuhan yang lebih premium. Apple dikatakan akan menggunakan layar melengkung, mirip Galaxy Edge, berjeniskan Super AMOLED bikinan Samsung.

Rumor lainnya menyatakan bahwa iPhone 8 akan mengalami perubahan desain yang cukup radikal. Pasalnya, desain iPhone sudah tidak mengalami perubahan sejak iPhone 6 dirilis beberapa tahun lalu.

Masih menurut sang sumber, sebagaimana KompasTekno rangkum dari GSM Arena, Kamis (27/10/2016), iPhone 8 sudah tidak mengunakan casing belakang berbahan aluminium. Apple akan menggantinya dengan panel kaca.

Panel kaca tersebut kabarnya akan dipasok perusahaan China Biel Crystal Manufactory dan Lens Technologi.

Meski begitu, bagian depan dari iPhone 8 dikatakan masih akan menggunakan frame berbahan metal.

Seperti biasa, Apple menolak berkomentar terhadap rumor yang berkembang mengenai produk yang belum dirilisnya.

Menurut Anda, akan seperti apakah desain fisik iPhone 8 nantinya?

Oppo dan Vivo Rajai China, Geser Huawei dan Xiaomi

Peta persaingan smartphone di China kembali berubah. Sempat didominasi oleh Xiaomi dan Huawei, kini pasar Negeri Tirai Bambu dikuasai oleh Oppo dan Vivo.

Menurut laporan kuartal-III 2016 (Juli hingga September ini) dari lembaga Counterpoint Research, Oppo menduduki singgasana smartphone China dengan pangsa pasar 16,6 persen.

Sementara itu, Vivo berada di posisi kedua dengan pangsa pasar 16,2 persen, terpaut tipis dari Oppo.

Android Authority
Data kuartal-III 2016 di China menurut Counterpoint
Raja smartphone China sebelumnya, Huawei, harus puas turun ke posisi tiga. Meski begitu, pangsa pasar Huawei di China masih cukup besar, yakni 15 persen.

Xiaomi kembali merosot di kuartal-III ini. Perusahaan yang juga berasal dari China ini hanya berhasil meraih 10,6 persen pangsa pasar saja.

Meningkat drastis

Pangsa pasar yang diraih oleh Vivo dan Oppo dalam beberapa kuartal ini memang menunjukkan peningkatan drastis.

Pada kuartal-III tahun 2015, Oppo dan Vivo baru memiliki pangsa jauh dari kedua nama di atas, masing-masing sebesar 9,9 persen dan 8,2 persen.

Huawei dan Xiaomi menduduki posisi satu dan dua, dengan pangsa pasar 15,6 persen dan 14,6 persen.

Bahkan, Oppo dan Vivo masih kalah dari Apple, pemegang posisi tiga dengan 12,4 persen pangsa pasar smartphone di China.

Kuartal-II tahun 2016 ini, Oppo dan Vivo mulai semakin dekat posisi pertama kala itu, Huawei. Bahkan, keduanya sudah berhasil menyalip Xiaomi dan Apple.

Oppo berhasil mendapat pangsa pasar sebesar 16 persen dan Vivo dengan 13,2 persen. Pemuncak daftar di kuartal sebelumnya ini masih dipegang Huawei sebesar 16,9 persen.

Sementara itu, Xiaomi sudah turun ke posisi empat dengan pangsa pasar 11,2 persen.

Xiaomi butuh ponsel premium

Tren ponsel buatan China sendiri memang sedang mengalami perubahan. Masyarakat sudah tidak lagi mencari smartphone dengan harga murah, digantikan dengan perangkat premium berbanderol mahal.

Menurut Zhang Meng, Senior Analyst Counterpoint, Xiaomi hanya mampu mengalami peningkatan pengiriman produk sebesar 1 persen saja.

Hal tersebut disebabkan langkanya penjualan produk Xiaomi di toko fisik atau secara offline.

“Xiaomi juga butuh flagship jagoan premium untuk bersaing dengan perusahaan yang banyak berfokus di bidang R&D, seperti Oppo, Vivo, Apple, dan Huawei,” tutur Meng, sebagaimana KompasTekno rangkum dari Android Authority, Kamis (27/10/2016).

Sementara itu, pengapalan produk Oppo meningkat sebesar 82 persen secara year-over-year, berkat smartphone flagship Oppo R9. Masih menurut Counterpoints, produk yang satu ini bahkan mendominasi penjualan smartphone di China, mengalahkan iPhone.

Sedangkan, Vivo mengalami pertumbuhan sebesar 114 persen untuk masalah pengapalan produk berkat flagship X7.

Counterpoints juga memprediksi, Huawei bakal bersaing ketat dengan Oppo dan Vivo di kuartal berikutnya. Di kuartal tersebut Huawei diprediksi bakal merilis Mate 9, flagship yang diyakini bakal merebut kembali pangsa pasar dari Oppo dan Vivo.

Microsoft Gandeng Vendor Laptop Bikin Headset VR

Microsoft bekerja sama dengan Dell, Lenovo, Acer dan HP, akan membuat serangkaian produk headset virtual reality (VR). Perangkat ini akan dibanderol dengan harga mulai dari 299 dollar AS atau sekitar Rp 3,8 juta.

Headset VR tersebut bakal bekerja dengan memanfaatkan software Windows 10 VR dan kemampuan hollographic yang dikembangkan oleh Microsoft.

Selain itu, di dalamnya headset itu juga dibekali fitur yang berbeda dibanding produk VR yang sudah ada di pasar (Oculus Rift, HTC Vive dan Playstation VR). Fitur tersebut antara lain berupa sensor yang bisa memindai bagian dalam dan luar headset.

Seperti dilansir KompasTekno dari Geek, Kamis (27/10/2016), perbedaan fitur ini punya arti besar. Pasalnya, headset bisa memindai gerakan kepala pengguna, tanpa harus menyematkan kamera eksternal serta sistem laser.

Fitur tersebut mirip dengan yang sedang dikembangkan oleh Oculus dalam purwarupa headset Santa Cruz. Bedanya, headset VR Microsoft masih menggunakan kabel dan tidak bisa bekerja tanpa bantuan komputer.

Namun tentu saja, karena sekarang masih belum dirilis, Microsoft bisa saja mengembangkannya lebih jauh dan mengubah headset VR buatannya menjadi nirkabel.

Headset VR buatan Microsoft dan rekan-rekannya dirancang sedemikian rupa agar cocok dengan pembaruan sistem operasi Windows 10 Creator yang akan datang. Ke depannya, kecocokan ini berarti, pengguna bisa memakai headset tersebut untuk mengakses Paint 3D dalam mode VR.

Sekarang, belum jelas kapan waktu peluncuran atau penjualan headset VR ini. Tampaknya pengguna masih harus menunggu cukup panjang untuk melihat wujud nyatanya.

Revisi UU ITE Disetujui, Ini Poin Perubahannya

Revisi Undang-undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) akhirnya selesai dibahas dan sudah disahkan menjadi Undang-undang (UU) oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

“Alhamdulillah, Chief. Barusan (RUU ITE) disetujui DPR & Pemerintah dalam rapat paripurna DPR,” ujar Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara saat dihubungi KompasTekno, Kamis (27/10/2016).

Setelah disahkan oleh DPR, UU tersebut akan masuk ke tahap pemberkasan di DPR. Selanjutnya, Presiden menuangkannya dalam berita negara dan undang-undang yang telah mengalami perubahan itu pun langsung berlaku.

Menurut Rudiantara, perubahan UU ITE ini hanya dilakukan dalam beberapa hal minor saja. Tujuan utamanya adalah supaya bisa menyesuaikan dengan dinamika teknologi dan tidak ada pihak yang bisa memanfaatkan UU ITE untuk melakukan kriminalisasi pada pihak lain.

Seiring dengan pengesahan revisi tersebut, Rudiantara langsung berkicau di akun Twitter pribadinya dan menerangkan mengenai sejumlah poin yang berubah.

“Terdapat 7 muatan materi pokok RUU, Revisi UU ITE yang diharapkan mampu menjawab dinamika tersebut,” kicau Rudiantara.

Rincian 7 muatan materi tersebut adalah:

1. Menambahkan sejumlah penjelasan untuk menghindari multi tafsir terhadap ketentuan penghinaan/pencemaran nama baik pada Pasal 27 ayat 3.

2. Menurunkan ancaman pidana pencemaran nama baik, dari paling lama 6 tahun menjadi 4 tahun, dan denda dari Rp 1 miliar menjadi Rp 750 juta.

Selain itu juga menurunkan ancama pidana kekerasan Pasal 29, sebelumnya paling lama 12 tahun, diubah menjadi 4 tahun dan denda Rp 2 miliar menjadi Rp 750 juta.

3. Melaksanakan putusan Mahkamah Konstitusi atas Pasal 31 ayat 4 yang amanatkan pengaturan cara intersepsi ke dalam UU, serta menambahkan penjelasan pada ketentuan Pasal 5 ayat 1 dan 2 mengenai informasi elektronik sebagai alat bukti hukum.

4. Sinkronisasi hukum acara penggeledahan, penyitaan, penangkapan, dan penahanan dengan hukum acara dari Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP).

5. Memperkuat peran Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) UU ITE untuk memutuskan akses terkait tindak pidana TIK.

6. Menambahkan Right to be Forgotten, yaitu kewajiban menghapus konten yang tidak relevan bagi penyelenggara sistem elektronik. Pelaksanaannya dilakukan atas permintaan orang yang bersangkutan berdasarkan penetapan pengadilan.

7. Memperkuat peran pemerintah untuk mencegah penyebarluasan konten negatif di internet, dengan menyisipkan kewenangan tambahan pada ketentuan Pasal 40.

Kewenangan tersebut berupa kewajiban untuk mencegah penyebarluasan informasi elektronik yang memiliki muatan terlarang, dan kewenangan memutus akses atau memerintahkan penyelenggara sistem elektronik untuk memutus akses terhadap informasi elektronik yang melanggar hukum.

Memotret dengan Asus Zenfone 3 ZE520KL

Asus meresmikan kehadiran Zenfone 3 di Indonesia dalam acara yang digelar di Bali, bulan lalu. Sebanyak lima varian ponsel tersebut diboyong sekaligus, masing-masing dengan spesifikasi dan level harga berbeda.

Salah satunya, di kelas menengah, adalah Zenfone 3 ZE520KL. Perangkat ini dibekali hardware mencakup prosesor octa-core Snapdragon 625, RAM 3 GB, dan media penyimpanan 32 GB.

Baca: Asus Boyong 5 Varian Zenfone 3 ke Indonesia

Perangkat berbanderol Rp 4,1 juta ini memiliki kamera 16 megapiksel berjuluk “PixelMaster 3.0”. Ada juga sensor Sony Exmor RS IMX298 dan lensa berbukaan f/2.0.

Tak berhenti sampai di situ, unit kamera milik Zenfone 3 ZE520KL turut dibekali fitur optical image stabilizer (OIS) dan electronic image stabilizer (EIS, khusus video). Kamera depannya sendiri beresolusi 8 megapiksel.

Dengan deretan fitur fotografi yang terbilang lengkap untuk ponsel kelas menengah itu, Zenfone 3 ZE520KL memiliki slogan “bulit for photography”. Seperti apa hasil tangkapan gambarnya?

Antarmuka
Oik Yusuf/ KOMPAS.com
Opsi Instant Camera dan pengambilan gambar dengan sensor sidik jari (khususnya untuk selfie) tersembunyi di dalam menu Lock Screen dan Fingerprint.
Seperti biasa, aplikasi kamera bawaan Zenfone 3 ZE520KL bisa ditemukan di layar utama home screen. Aplikasi ini juga bisa dipanggil secara cepat dengan mengaktifkan opsi “Instant Camera” di menu Settings>Lock Screen.
Kamera utama 16 megapiksel pada ponsel ini memiliki aspect ratio 4:3 standar.

Begitu dibuka, tampilan antarmuka aplikasi kamera dalam mode “Auto” akan segera menyambut. Di sisi kiri secara berurutan dari atas ke bawah terdapat deretan ikon untuk mengaktifkan atau mematikan flash, mengaktifkan kamera depan atau belakang, HDR, dan menu berbentuk logo gir.

Di sebelah kanan, ada ikon galeri untuk melihat hasil foto atau video, ikon khusus untuk berpindah ke mode “Manual”, shutter release, record video, serta ikon untuk mengganti mode pemoretan ke opsi yang tersedia di luar Auto dan Manual.

Baca: Stok Sedikit, Harga Zenfone 3 di Jakarta Naik

Opsi mode pengambilan gambar yang disediakan termasuk banyak, total mencapai 20 buah dengan kegunaannya masing-masing seperti “QR Code” untuk memindai kode QR dan “Beautification” untuk memperhalus tampilan wajah, khususnya saat selfie dengan kamera depan.
Oik Yusuf/ KOMPAS.com
Tampilan mode Auto, Manual, dan beberapa paramenter gambar yang bisa diatur lewat menu Optimization.
Mengingat kalangan penggemar fotografi yang disasarnya, mode Manual pada aplikasi kamera Zenfone 3 ZE520KL termasuk lengkap. Ada opsi untuk mengatur white balance secara manual dengan unit Kelvin meski dengan rentang yang tak terlalu luas (2.500K-6500K, interval per 50K), exposure compensation, kecepatan rana, dan fokus manual.

Untuk membantu penggambilan gambar, disediakan pula level 2-sumbu horizontal dan vertikal untuk memastikan posisi ponsel telah lurus dengan horizon. Lalu ada indikator exposure dari -2EV hingga +2 EV, serta histogram luminance di pojok layar.

Di tombol menu berlogo gir, pengguna bisa mengakses opsi pengaturan lebih lanjut. Seperti “Optimization” yang berisi parameter setting seperti level saturasi warna, kontras, sharpness, bahkan juga tingkat noise reduction yang jarang tersedia di smartphone.
Oik Yusuf/ KOMPAS.com
Slider exposure compensation akan muncul ketika pengguna menahan jari beberapa saat setelah menyentuh area frame yang hendak dijadikan titik fokus.

Opsi “Touch auto-exposure” memiliki fungsi mirip spot metering pada kamera digital. Zenfone 3 ZE520KL akan mengukur exposure berdasarkan intensitas cahaya obyek pada titik fokus, bukan rata-rata intensitas cahaya di frame (average metering). Praktis ini untuk kondisi tertentu seperti saat obyek terlihat gelap karena backlight.

Metering cahaya bisa diatur lebih lanjut dengan exposure compensation yang diterapkan secara praktis.

Cukup dengan menahan jari beberapa saat ketika menyentuh layar untuk melakukan fokus, maka aplikasi kamera akan mengunci AF, AWB, dan AE serta menampilkan slider pengatur gelap-terang gambar di bawah lingkaran indikator fokus. Fungsi “Touch Shutter” mesti dimatikan agar opsi pengaturan exposure compensation ini bisa muncul.

Revisi UU ITE Masih Berpotensi Mengancam Kebebasan Ekspresi

Anggapan pasal karet yang selama ini menempel pada Pasal 27 ayat 3 di Undang-undang No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), tidak dicabut dalam versi revisinya yang disahkan oleh DPR hari ini, Kamis (27/10/2016).

Alih-alih, pemerintah menambahkan sejumlah penjelasan untuk menghindari multitafsir terhadap ketentuan penghinaan atau pencemaran nama baik pada Pasal 27 ayat 3. Pemerintah pun memutuskan untuk mengurangi ancaman hukumannya.

Baca: Revisi UU ITE Disetujui, Ini Poin Perubahannya

Pasal tersebut selama ini selalu menjadi senjata andalan untuk mengajukan tuntutan pencemaran nama baik, sehingga mengancam kebebasan berekspresi di internet. Oleh karena itu, pengamat menilai pasal karet tersebut seharusnya dihapus saja.

“Pemerintah seharusnya mencabut ketentuan Pasal 27 ayat (3), tidak hanya mengurangi ancaman hukumannya,” tutur peneliti dari lembaga kajian Institute for Criminal Justice Reform (ICJR) Anggara dalam keterangan tertulis yang diterima KompasTekno, Kamis (27/10/2016).

Menurut Anggara, argumen pemerintah itu lemah. ICJR dan LBH Pers berpandangan bahwa norma dan praktik perubahan tersebut masih tetap berpotensi mengancam kebebasan ekspresi.

Di samping itu, ada persoalan duplikasi tindak pidana karena ketentuan–ketentuan yang sama dalam KUHP masih mampu untuk menjangkau perbuatan–perbuatan yang dilakukan dengan medium internet.

“Problem yang terjadi adalah pasal-pasal pidana tersebut terbukti masih bersifat karet, multi intrepretasi, dan gampang disalahgunakan,” kata Anggara.

Mengurangi ancaman hukuman tidak menjawab akar masalah karena dalam praktik, aparat penegak hukum kerap menggunakan tuduhan ganda, pasal berlapis, sehingga ancaman pidana yang ada dapat menahan sesorang yang dilaporkan atas pasal 27 ayat (3).

Pasal 27 ayat 3 sendiri berbunyi, “Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik dapat di dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,000 (satu miliar rupiah).”

Revisi Undang-undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) selesai dibahas dan sudah disahkan menjadi Undang-undang (UU) oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Setelah disahkan oleh DPR, UU tersebut akan masuk ke tahap pemberkasan di DPR. Selanjutnya, Presiden menuangkannya dalam berita negara dan undang-undang yang telah mengalami perubahan itu pun langsung berlaku.

Resmi, Zenfone 3 Max Dijual Mulai dari Rp 2,2 Juta di Indonesia

Asus resmi merilis Zenfone 3 Max dalam acara Zenvolution pada bulan September lalu di Indonesia. Kini, smartphone Android tersebut akhirnya tersedia juga di pasaran Tanah Air.

Di Indonesia, ada dua varian Zenfone 3 Max ZC520TL yang tersedia. Keduanya memiliki spesifikasi yang sama, tetapi dibedakan dari kapasitas memori internal.

Varian pertama memiliki media penyimpanan 16 GB, bakal dijual dengan harga Rp 2.199.000. Sementara itu, varian kedua berkapasitas 32 GB dan akan dilepas dengan harga Rp 2.399.000.

“Kami senang dapat menghadirkan Zenfone 3 Max ke pasaran Indonesia. Smartphone ini sudah lama ditunggu oleh banyak fans Asus dan sekarang sudah bisa dibeli di pasaran,” tutur Juliana Cen, Country Product Group Leader Asus Indonesia, dalam keterangan tertulis yang diterima KompasTekno, Kamis (27/10/2016).

Zenfone 3 Max sendiri merupakan seri penerus dari Zenfone Max yang dirilis tahun lalu. Masih sama dari generasi sebelumnya, Zenfone 3 Max masih mengandalkan baterai super besar.

Zenfone 3 Max dibekali dengan baterai 4.130 mAh. Yang menarik dari baterai jumbo ini, selain sebagai tenaga ponsel, smartphone baru tersebut dapat difungsikan jadi powerbank (baterai portabel) menggunakan kabel USB on-the-go yang disediakan.

Smartphone ini hadir dengan layar IPS berbentang 5,2 inci dengan dukungan resolusi 1.280 x 720.

Sebagai “otak” pemrosesan, Zenfone 3 Max dibekali CPU Arm Cortex-A53 1,2 GHz quad-core, yang dikombinasikan dengan GPU Mali T720 600 MHz.

Spesifikasi lainnya, RAM 2 GB, kamera belakang 13 megapiksel, kamera depan 5 megapiksel, dan menjalankan sistem operasi Android 6.0 Marshmallow yang dipercantik dengan tampilan antarmuka ZenUI 3.0.

Motorola Malu-malu “Comeback” ke Indonesia

Vendor smartphone Motorola yang di-rebrand sebagai Moto sudah resmi kembali hadir ke pasar Indonesia. Di awal “kelahirannya kembali” di Tanah Air, Moto merilis smartphone Android Moto E3 Power.

Peluncuran Moto E3 Power dilakukan di Jakarta pada Rabu (26/10/2016) lalu. Moto E3 Power dipasarkan di Indonesia oleh Lenovo selaku pemilik Motorola dan brand ponsel Moto setelah mengakuisisi perusahaan asal Amerika Serikat tersebut.

Baca: Resmi, Moto E3 Power Dijual Rp 1,9 Juta di Indonesia

Namun, kembalinya Motorola ke pasar smartphone Indonesia ini masih terkesan setengah hati.

Mundur kembali pada Agustus 2015, petinggi Lenovo, Dillon Ye yang berkunjung ke Indonesia saat itu membeberkan rencana ekspansi Motorola ke Indonesia. Menurut Dillon, Motorola akan diplot masuk ke pasar smartphone kelas menengah ke atas, sementara Lenovo menyasar kelas menengah ke bawah.

Saat itu juga, Dillon menjanjikan comeback Lenovo ke pasar indonesia pada akhir tahun 2015. Ia menjanjikan akan menghadirkan smartphone Nexus 6 sebagai perangkat Motorola pertama yang dihadirkan di Indonesia.

Baca: Desember, Lenovo Boyong Android Motorola ke Indonesia

Namun, rencana comeback tersebut ternyata harus diundur hingga Oktober 2016 ini. Entah apa yang menyebabkan Motorola batal merilis Nexus 6 di Indonesia pada akhir tahun lalu. Yang pasti, di rentang waktu itu, aturan terkait tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) ponsel 4G di Indonesia sedang mengalami banyak perubahan.

Setelah aturan TKDN ponsel 4G ditetapkan oleh pemerintah pada September 2016 lalu, Motorola pun hadir sebulan kemudian, bukan dengan flagship Nexus 6, melainkan smartphone kelas menengah Moto E3 Power.

Moto E3 Power sejatinya adalah ponsel Motorola Moto E3 yang beredar di pasaran global sejak September 2016. Di Indonesia, ponsel tersebut ditambah dengan embel-embel Power, dengan perbedaan kapasitas baterai yang lebih meningkat, dari 2.800 mAh menjadi 3.500 mAh, dan RAM dari 1 GB menjadi 2 GB.

Spesifikasinya lainnya meliputi layar 5 inci dengan resolusi HD (1.280 x 720), kamera utama 8 megapiksel, kamera sekunder 5 megapiksel, prosesor quad-core 64 bit, RAM 2 GB, serta sistem operasi Android 6.0 Marshmallow.

Masih malu-malu?

Kembalinya Motorola ke Indonesia memang telah dinanti-nanti. Fans Motorola era RAZR di Indonesia menunggu kejutan apa yang akan dibuat Motorola di era Android.

Namun penantian itu bisa dibilang berbuah kecewa. Sebab Motorola justru merilis ponsel kelas menengah, bukan ponsel premium sebagaimana yang dijanjikan oleh Dillon Ye.

Soal mengapa Moto E3 Power yang menjadi ponsel perdana yang dipasarkan di Indonesia ini, Country Lead Mobile Business Group Lenovo Indonesia, Adrie R. Suhadi, memberikan alasannya.

“Merger Lenovo dan Moto masih dalam proses. Masih ada portofolio ‘warisan’ yang mesti kita bawa, Moto E3 misalnya. Makanya Moto E3 ini agak overlap dengan Lenovo,” ujar Adrie di sela peluncuran Moto E3 Power.

Baca: Menengok Kembali Ponsel-ponsel Ikonik Motorola

Di pasar global, Motorola telah merilis flagship Moto Z, ponsel modular yang bagian belakangnya bisa dipasangi dengan berbagai aksesori, seperti kamera, speaker, proyektor, dan sebagainya.

Awalnya, banyak yang memprediksi bahwa Moto Z inilah yang bakal dirilis di Indonesia sebagai comeback Motorola, mengingat ponsel tersebut adalah ponsel premium yang bisa membedakannya dari lini Lenovo.

Motorola masih terkesan malu-malu dengan menghadirkan E3 Power, bukan Moto Z, seperti yang diprediksi oleh banyak orang itu.

Tampaknya Motorola masih menghadapi kendala dengan Moto Z. Bisa jadi karena TKDN atau produksi Moto Z yang membutuhkan alat-alat yang lebih canggih bila diproduksi di Indonesia.

Sebagai tambahan, Moto E3 Power memenuhi persyaratan TKDN ponsel 4G 20 persen dengan jalur investasi hardware, dimana Lenovo memproduksi Moto E3 Power di Indonesia lewat pabrik TDK di serang, Banten.

Soal kehadiran ponsel Moto Z ini, 4P Manager MBG Lenovo Indonesia Anvid Erdian sedikit memberikan kisi-kisi.

“Moto Z sih Insya Allah akan hadir di Indonesia. Tunggu saja tanggal mainnya, kami sih ingin secepatnya,” kata Anvid.

Baca: Kapan Android Moto Z Masuk Indonesia?

Tes pasar?

Bisa jadi, langkah Motorola merilis smartphone kelas menengah ini masih berupa tes pasar. Mereka ingin menilai daya serap konsumen terhadap ponsel-ponsel keluaran Moto.

Mengingat Moto akan bersaing dengan nama-nama besar seperti Samsung dan Oppo yang juga bermain di kelas menengah ke atas di Indonesia.

Moto E3 Power pun juga masih dijual secara online. Artinya, calon pembeli hanya bisa menemukannya di situs jual-beli online yang ditunjuk Lenovo, mereka tidak akan menjumpainya di gerai-gerai peritel offline seperti Erafone, Okeshop, atau Global Teleshop.

Baca: Moto E3 Power Hanya Dijual Online di Indonesia

Soal tes pasar ini juga diakui oleh Adrie. Penjualan perdana secara online, menurut Adrie, sekaligus merupakan upaya menguji reaksi pasar terhadap brand Motorola (Moto) setelah beberapa tahun absen dari pasaran Indonesia.

Dia mengaku belum tahu kapan ponsel seri Moto akan dijual lewat gerai-gerai offline di Indonesia.

Yang pasti, jelasnya, apabila portofolio produk Moto sudah lengkap nanti, Lenovo meyakini seri ponsel besutan Motorola itu bakal membantu mendongkrak perolehan bisnis ponsel Lenovo di segmen menengah atas yang selama ini kurang tercakup oleh ponsel Lenovo.

Adrie mengatakan pasaran ponsel high-end di Indonesia masih menyisakan ruang untuk pemain baru.

“Apalagi, sekarang ada beberapa model kelas atas yang tidak bisa masuk, entah karena tersandung kasus atau TKDN. Ini adalah kesempatan Moto untuk masuk,” ujarnya.

Dia masih belum memastikan ponsel Moto seri apa yang akan dijadikan andalan di segmen atas. Namun, di luar Moto E, Motorola memang memiliki beberapa model smartphone Moto yang mengisi segmen pasar berbeda, yakni Moto G di kelas menengah dan Moto Z di kelas premium.

Hati-hati Penipuan Janji WhatsApp Gratis Pakai WiFi

Para pengguna Whatsapp kembali mendapatkan scam dengan janji-janji palsu dimana dikatakan mereka bisa melakukan chatting dengan Whatsapp tanpa internet, alias Gratis.

Dengan mengklik tautan yang dijanjikan yang akan meminta syarat mudah, kirimkan pesan tersebut ke 10 teman dan 5 group Whatsapp.

Bagi pengguna Whatsapp yang tertipu, alih-alih mendapatkan Whatsapp gratis tanpa internet, yang terjadi malah ia dijadikan korban untuk menyebarkan scam ke kontak dan group WhatsApp-nya.

Setelah korbannya mengerjakan apa yang diperintahkan, ibarat kuda penarik kereta yang di depan mulutnya diikatkan wortel, supaya ia tetap berlari namun tidak akan pernah mencapai wortel tersebut.

Korban akan ditipu untuk meng-install apps yang kemungkinan besar menggunakan metode Pay per Install yang akan memberikan keuntungan finansial langsung kepada pembuat scam ini.

Dalam banyak kasus, aplikasi yang di-installkan berpotensi melakukan aktitivas malware.

Scam ini cukup canggih karena memiliki opsi untuk mendeteksi pengakses situs, jika diakses melalui smartphone akan menampilkan pesan scam, namun jika diakses dari komputer biasa akan dialihkan ke google search.

Kemungkinan opsi ini dimunculkan untuk menghindari pesan error pada PC karena coding yang dilakukan tidak kompatibel dengan Whatsapp for PC.

Pesan di WhatsApp ini akan datang dalam bentuk sebagi berikut:
ist
Scam di WhatsApp.

ist
Scam WhatsApp gratis.

Jika di klik dari smartphone, maka ia akan menampilkan pesan untuk share (broadcast) ke 5 group dan 10 kontak Whatsapp.
ist
Gambar 3, Permintaan untuk mengundang 10 teman dan 5 group WhatsApp.
Jika hal tersebut dilakukan, maka korbannya sudah tertipu karena secara otomatis program tersebut akan mengirimkan pesan Whatsapp ke kontak dan group Whatsapp seperti pada kedua gambar di atas.
Jika korbannya memiliki tekad bulat maju terus pantang mundur menyelesaikan misinya meskipun sudah jelas-jelas tertipu telah menjadi korban scam dan melakukan broadcast, dan ia mengklaim hadiah yang dijanjikan.

Setelah mengirimkan 15 pesan dan mengklik tombol hijau [Activate Ultra Wifi], maka ia akan dihantarkan pada layar berikutnya. Bukan akses Whatsapp gratis yang didapatkannya melainkan layar janji surga lainnya dimana ia akan diminta untuk menginstal beberapa aplikasi.

Dan konyolnya lagi, aplikasi-aplikasi tersebut harus di buka selama 2 menit dan tidak boleh di uninstal selama 7 hari.

ist
Gambar 4, Bukan Whatsapp gratis yang didapatkan melainkan persyaratan untuk menginstall 3 aplikasi.

Jika hal tersebut tetap dilakukan, bahaya lain sangat berpotensi mengancam pengguna smartphone tersebut karena aplikasi smartphone sangat rentan disusupi malware dan korbannya bukan mendapatkan Ultra Wifi tetapi mendapatkan Ultra Tipu-tipu atau Ultra Malware.

Apa yang harus dilakukan jika Anda menyebarkan scam?

1. Jika Anda terlanjur percaya dan menyebarkan scam, Vaksincom menyarankan anda untuk segera menghubungi kontak dan group Whatsapp yang anda kirimi dan informasikan untuk tidak mengikuti pesan WhatsApp tersebut.

2. Jika Anda terlanjur menginstal aplikasi seperti gambar 4 di atas, segera uninstal aplikasi tersebut dan scan smartphone anda dengan program antivirus ter-update, seperti G Data Internet Security.

Penulis: Alfons Tanujaya
==========
*Alfons Tanujaya adalah mantan bankir yang merintis karir di dunia IT sejak tahun 1998, tahun 2000 mendirikan PT. Vaksincom dan aktif mendedikasikan waktu untuk memberikan informasi dan edukasi tentang malware dan sekuriti bagi komunitas IT Indonesia.

Orang Indonesia Paling Eksis dan Relijius Sedunia

Membaca berita Orang Indonesia Paling “Menderita” soal Baterai Ponsel , saya jadi tersadar ternyata orang Indonesia benar-benar paling “boros” urusan baterai handphone.

Secara rata-rata global penggunaan baterai ponsel mencapai 21.7 jam; namun di genggaman pengguna Indonesia baterai hanya bertahan di angka 12.8 jam dan yakinlah banyak sekali pengguna handphone yang “lebih menderita” karena sehari bisa charge dua tiga kali bahkan lebih.

Mengutip artikel tersebut, Brasil mencatatkan rata-rata daya hidup baterai selama 17,9 jam, sedangkan AS mencatatkan 18,2 jam. Negara dengan daya hidup baterai terlama adalah Jerman, selama 32,1 jam; Selandia Baru selama 27,7 jam; serta Australia selama 26,7 jam.

Di Indonesia tidak susah melihat para pengguna smartphone menenteng-nenteng baterai gendong alias powerbank. Beberapa teman dari negara lain terheran-heran mendengar kata “powerbank”.

Selain menenteng powerbank, tak sulit menemukan para pengguna smartphone mencari colokan listrik di mall, stasiun, ruang tunggu airport, ruang tunggu dokter, ruang tunggu rumah sakit, ruang tunggu bank; dan tempat lain.

Terlebih jika sudah lewat jam 12 siang, di mana-mana akan terlihat orang berlomba mencari colokan listrik. Tak lupa pertanyaan wajib: “wifi sini password’nya apa?”

Coba kita telisik tren sebagian besar pengguna smartphone di Indonesia. Media sosial? Jelas berderet iconnya terinstall rapi di smartphone masing-masing.

Facebook sepertinya wajib untuk pengguna smartphone, selain Twitter dan Instagram. Kemudian aplikasi percakapan, sebut saja Whatsapp, Line, WeChat, KakaoTalk, Skype, dan tak ketinggalan yang sudah uzur dan mulai ditinggalkan yaitu BBM.

Kemudian aplikasi foto, beserta aplikasi pendukungnya untuk mempercantik diri, memutihkan kulit, menyipitkan mata lebar dan melebarkan mata sipit, melentikkan bulu mata serta melembutkan rambut, meniruskan pipi tembem, atau merampingkan pinggang melar.

Foto makanan sehari minimal tiga kali adalah wajib, sarapan apa, makan siang apa, makan malam apa wajib difoto dan dishare ke Google+, Facebook, Whatsapp Group, Instagram dan Twitter.

Plus kalau di antara itu ada tea time atau coffee time, sudah jelas wajib foto. Apalagi kalau makan siang bersama teman kantor di mall, makan malam sama pacar atau suami/istri atau keluarga, nama resto dan tampak depan resto wajib foto, daftar menu tak boleh tidak difoto. Habis makan juga harus foto bersama.

Di parkiran lihat ada Lamborghini atau Ferrari kudu selfie, walaupun beli supercar seperti itu jelas jauh di awang-awang untuk kebanyakan orang, minimal ada foto selfie lah.

Beberapa saat setelah makan, wajib melototi smartphone untuk mengecek komentar teman-teman dan para followers, membalas komentar, menghitung jempol ‘like’, bila perlu membahas rasa serta resep dengan gaya ahli kuliner ala Bondan ‘Maknyus’ Winarno.

Ke toilet mall yang baru pertama kali masuk juga kudu wajib difoto interiornya, wastafelnya, kacanya, dsb.

Untuk belanjapun tak lupa berbagai aplikasi; ada Lazada, BliBli, Elevania, BukaLapak, Tokopedia, dan entah apa lagi. Untuk bepergian keliling kota dibutuhkan aplikasi Uber, Grab, Gojek. Khusus untuk Gojek malah sudah ada untuk pesan makanan dan minuman, bersih-bersih rumah, pijat dan entah layanan apa lagi.

Untuk berlibur aplikasi yang wajib di’install Garuda, Lion, Sriwijaya, Traveloka, Agoda, Accor, Booking-dot-com, Ctrip, AirAsia, Cathay Pacific. Selalu berburu tiket dan hotel murah dan promo.

Jangan lupa untuk keperluan banking. Semua ada di smartphone BCA, Mandiri, Maybank, OCBC NISP, CIMB Niaga, Danamon, Permata, HSBC, Standard Chartered dan lainnya.

Kemudian supaya tak ketinggalan berita di mana-mana. Ada aplikasi portal berita.

Tidak boleh ketinggalan ikut Group Whatsapp, baik group TK, SD, SMP, SMA dan universitas. Belum lagi group gereja, group masjid, group pengajian, group PKK, group RT- RW, group yoga, group aerobic, group pilates, group fitness, group sepedaan, group motor gede, group golf, group kantor, group departemen kantor, group divisi kantor, group makan siang kantor.

Nah untuk mami-mami (dan ada juga papi-papi), untuk memantau tugas dan PR anak, ikut juga group kelas anak pertama, group kelas anak kedua, group kelas anak ketiga dan seterusnya.

Yang dibahas bukan semata urusan sekolahan anak, di group seperti ini bisa membahas mau sarapan bareng di mana setelah antar anak ke sekolah, janjian fitness bareng, janjian ke salon bareng, janjian manicure-pedicure-creambath bareng.

Ada juga yang hobi ngrasani anak di kelas sebelah, yang bisa berlanjut ke duel jambak-jambakan antara dua mami, satu tidak terima anaknya dirasani, yang satu bertahan nyolot.

Tak berapa lama, foto duel jambak-jambakan akan beredar dari satu group ke group yang lain di sekolah tersebut dan menyebar ke group-group sekolah lain.

Supaya tidak ketinggalan urusan politik, group Facebook dan Whatsapp untuk Pilkada sudah jelas wajib juga. Group lovers dan haters calon gubernur atau kepala daerah tertentu, lovers atau haters partai politik tertentu, kudu juga jadi follower figur-figur ‘wah’ (politisi, kepala daerah, pemusik, penyanyi dan banyak lagi).

Belum lagi urusan game. Berbagai jenis game baik yang offline ataupun online. Jangan lupa streaming untuk yang hobi nonton serial Jepang, Korea, Mandarin, silat, misteri, CI, debat Trump – Hillary, dan masih banyak lagi.

Yang sangat menarik khusus untuk pengguna smartphone di Indonesia adalah: SANGAT RELIJIUS. Aplikasi kitab suci dari agama masing-masing terinstall di smartphone. Renungan harian agama tak ketinggalan, kotbah atau tafsir harian agama juga kudu ada.

Bukan saja agama sendiri, agama lain pun kadang diinstall untuk mencari persamaan, perbedaan, untuk kemudian dibahas, diperdebatkan, didiskusikan di group-group Whatsapp tadi itu.

Jika ada yang menemukan ‘kelemahan’ ayat kitab suci agama lain, dengan serta merta gembira ria memposting screenshot ayat tersebut beserta pembahasannya selayaknya sudah seperti ahli tafsir di group masing-masing.

Overdosis agama

Tak lupa berdoa di Facebook, menyapa Tuhan di Facebook dan Twitter, mengucap syukur kepada Tuhan lewat medsos, curhat kepada Tuhan di medsos, janjian selingkuh sambil berdoa supaya tidak ketahuan di private inbox, dapat kontrak besar lalu mengucap syukur kepada Tuhan sembari screenshot atau foto kontrak diposting di Facebook dan Twitter, kena tipu belanja online juga curhat di Facebook.

Akibat super eksis dan relijius itu, baterai dengan kapasitas berapapun, di tangan pengguna smartphone di Indonesia tidak bakalan bertahan lama.